Stop Modal “Harga Teman”!
Kenapa Musisi Wajib Bayar Produser & Arranger Secara Layak
Oleh: Tim Redaksi Rapper Family
Bagi kita yang terjun di dunia
musik, entah sebagai penyanyi, solois, anak band, atau pencipta lagu, kita
semua pasti punya mimpi yang sama: pengen punya karya yang meledak, didengerin
jutaan orang, dan lagunya glow up di platform streaming.
"Ah, harga teman lah bro, kan
kita udah kenal lama." "Nanti
kalau lagu ini viral, nama lu pasti ikut keangkat kok! Dapat exposure
gede!" "Boleh cicil dulu gak? Lagi seret nih, tapi butuh
lagunya cepet."
Come on. Sadar gak sih kalau mentalitas kayak gini yang bikin
ekosistem industri musik independen kita sering mandek dan gak sehat?
Karya
Lu Keren, Tapi Orang di Balik Layarnya "Puasa"?
Baru-baru ini di industri musik
lokal, isu tentang apresiasi terhadap pekerja di balik layar kembali memanas.
Salah satu karya yang menyuarakan keresahan ini dengan sangat jujur adalah lagu
berjudul "Bayar Producer Lo" karya Astagah Bonie dan Wizzow.
Meskipun lagunya dikemas dengan gaya hip-hop, pesan di dalamnya menampar
realitas seluruh musisi umum.
Banyak musisi baru atau independen
yang mikir kalau tugas produser musik itu gampang. Tinggal duduk di depan
laptop, mainin instrumen, beres. Padahal, lu tahu gak berapa modal yang mereka
keluarin?
- Hardware & Software: Mereka harus investasi ke perangkat studio yang mahal,
belum lagi membeli plugin atau VST yang orisinal (bukan bajakan)
demi menghasilkan kualitas audio yang jernih.
- Waktu & Kesehatan: Mereka begadang berjam-jam, ngulik aransemen, sampai
masuk angin demi dapet sound yang pas sama karakter vokal lu.
Ketika proses rekaman, kita sebagai
musisi sering kali minta revisi berkali-kali, minta detail ini-itu biar
sempurna. Tapi begitu tiba waktunya bayar, kita malah nawar pakai "harga
teman" atau janji-janji manis soal exposure.
Ingat: Produser musik gak bisa bayar token listrik atau beli
perlengkapan studio pakai mata uang "terima kasih" atau
"respect".
Exposure
Gak Bisa Dipakai Buat Belanja
Jangan pernah menggampangkan profesi
orang lain kalau kita sendiri pengen karya kita dihargai tinggi oleh pendengar.
Kalau lu emang berniat serius
berkarier di industri musik, perlakukan musik lu sebagai bisnis yang
profesional sejak dari hulu. Hubungan antara musisi (penyanyi/band) dan
produser itu harusnya simbiosis mutualisme (saling menguntungkan).
Jangan sampai penyanyinya kenyang dapat panggung dan tepuk tangan, tapi
produsernya dibikin "puasa" di belakang layar.
Teman yang baik itu bukan yang tega
minta harga paling murah. Teman yang baik adalah mereka yang tahu persis
seberapa besar perjuangan lu, dan rela membayar layak demi menghargai karya lu.
Saatnya
Bangun Ekosistem Musik yang Sehat!
Yuk, mulai hari ini kita beresin
etika bisnis kita di industri musik. Kalau mau kerja sama dengan produser, arranger,
atau session player:
- Siapkan budget yang masuk akal.
- Bayar uang muka (DP) sebagai tanda komitmen.
- Jelasin briefing secara detail di awal.
- Lunasi pembayaran tepat waktu tanpa drama atau alasan cicilan yang berbelit-belit.
Hargai produser lu, karena lewat
tangan dingin merekalah lagu lu yang biasa-biasa aja bisa berubah jadi karya
luar biasa.
Keep berkarya, stay professional,
and pay your producer! "Punya
pengalaman dapet klien musisi yang hobi nawar pakai exposure? Atau lu punya
pandangan lain? Yuk, tulis cerita lu di kolom komentar!"
Tidak ada komentar